Karya Patung Nusantara

Seni patung merupakan karya seni rupa tiga dimensi, artinya memiliki ruang atau volume sehingga dapat dilihat dari berbagai arah. Secara sederhana patung diartikan sebagai benda tiruan, baik manusia maupun binatang. Seni patung dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang indah. Sesuai perwujudannya, seni patung dapat dibuat dari berbagai macam bahan, alat, dan teknik.  Dengan demikian, yang dimaksud dengan patung secara keseluruhan adalah karya seni rupa tiga dimensi yang diwujudkan dalam berbagai bentuk yang indah dengan memanfaatkan bermacam-macam bahan, alat, dan teknik untuk membuatnya. 

Corak seni patung adalah gaya atau kekhasan perwujudan seni patung. Corak Patung ini muncul karena pengaruh budaya yang berlaku di masyarakat. Bagi masyarakat dengan budaya primitif, corak seni patungnya lebih sederhana, misalnya patung Suku Asmat di Papua. Bentuknya lebih sederhana dan bahan dari alam. Sebaliknya, pada masyarakat modern, karya seni patungnya lebih beragam. Nah, di blog kali ini kita akan membahas sesuatu yang mungkin belum banyak diketahui, yakni pengelompokkan corak-corak dalam seni patung.  

Corak seni patung dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

a. Representatif | Corak patung representatif adalah gaya patung yang meniru bentuk-bentuk alami, misalnya bentuk manusia, bentuk binatang, dan bentuk tumbuhan. Perwujudan patung corak ini secara fisik menyerupai bentuk aslinya, misalnya patung sapi yang dibuat sedemikian rupa hingga benar-benar menyerupai sapi, baik anatomi maupun proposinya. Salah satu contoh karya patung yang menggunakan corak representatif adalah : Patung "Bung Karno" karya Edy Sunarso (1998). 

Title : "Bung Karno"

Pematung : Edi Sunarso | Tahun : 1998 |  Tinggi : 440 cm | Corak : Representatif

Sosok Sang Proklamator mengenakan peci di kepala, baju safari dengan empat saku, dan tangan kiri yang sedang menyadang jas berdiri gagah. Edhi Sunarso, seorang pematung yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia seni dan dikenal dekat dengan presiden pertama Indonesia. Ia lahir di Salatiga, 2 Juli 1932. Di usia ke-83, beliau menghebuskan nafas terakhirnya pada 4 Januari 2016.

Salah satu karya Edhi Sunarso juga mulai menghiasi Komplek Gelora Bung Karno pada perhelatan Asian Games XVIII Tahun 2018. Patung figuratif yang terbuat dari perunggu setinggi 440 cm berdiri menghadap langsung ke arah Jalan Jenderal Sudirman seolah ingin menyapa langsung para pengunjung yang datang ke komplek Gelora Bung Karno.  Patung Bung Karno dibuat oleh Edhi Sunarso pada tahun 1998 dan menjadi salah satu spot foto favorit yang selalu diminati para pengunjung di komplek GBK.

---

b. Deformatif | Corak patung deformatif adalah gaya patung yang perwujudan bentuknya didasari dari bentuk alami, namun terdapat perubahan-perubahan bentuk. Karya patung yang menggunakan corak ini biasanya berupa tiruan alam yang diubah menjadi bentuk baru berdasarkan imajinasi pematung. Meskipun demikian, perubahan-perubahan ini tidak meninggalkan konsep dasar bentuk yang ditiru. Salah satu contoh karya patung yang menggunakan corak deformatif adalah : Patung "Wanita Berdoa” karya But Mochtar (1970).

 

Title : "Wanita Berdoa"

Pematung : But Mochtar | Tahun : 1970 | Bahan : Perunggu. | Tinggi : 50 cm. | Diameter : 15 cm | Corak : Deformatif.

Dalam karya patung perunggu yang berjudul " Wanita Berdoa " ( 1970 ) ini, But Muchtar mengungkapkan ide penciptaan tentang nilai-nilai spiritualitas kehidupan.  Ekspresi kepasrahan relegius dihadirkannya dalam sosok figur perempuan dengan posisi menengadahkan tangan.  Ekspresi raut wajah yang menghadap keatas itu dengan kuat seakan menggambarkan sebuah pengharapan.  Deformasi pada gesture tubuh yang dibentuk dari karakter kemasifan perunggu, menghadirkan lekuk-lekuk tubuh yang dengan elastis mempresentasikan sosok figur wanita yang tangguh.

But Muchtar merupakan salah satu pematung yang penting dalam era seni rupa Indonesia.  Dia merupakan salah satu penanda dimana paradigma estetik humanisme universal yang terbagung banyak merujuk pada proses pencarian kebebasan nilai dan jati diri manusia.  Ungkapan bahasa liris banyak dihadirkan sebagai manifestasi nilai personal dan pengungkapan jiwa murni, di mana didalamnya terkandung berbagai muatan emosi, intelektualitas, dan nilai spiritual.  Paradigma inilah yang banyak mengarahkan But Muchtar dalam melakukan eksplorasi nilai-nilai humanistik yang menjadi ciri khas dalam karya-karyanya.

Dalam karya ini dapat dilihat bagaimana nilai religiusitas seniman termaknai dalam karyanya.  Ungkapan liris sosok figur wanita sedang berdoa, merupakan manifestasi eksplorasi nilai religi yang terwujud dalam kedalaman konsep dan esensi bentuk.  Manifestasi ungkapan karya tersebut menuntun kesadaran spiritualitas manusia sebagai makhluk yang memiliki ketergantungan hidup kepada Tuhannya.

 

---

c. Abstrak | Corak patung abstrak adalah gaya patung yang bentuknya jauh dari bentuk-bentuk alami, bahkan menuju bentuk dasar benda seperti kubus, silinder, bola, piramida, atau kerucut. Karya patung yang menggunakan corak ini biasanya berupa patung yang dibuat dengan daya khayal pencipta semata yang hanya menampilkan garis, lekukan, atau bentuk-bentuk lainnya. Arti dari bentuk dan fungsinya hanya diketahui secara pasti oleh pematungnya. Gaya patung ini dipengaruhi pemikiran konstruksi yang dipandang sebagai bentuk yang disusun dari berbagai bahan. Salah satu contoh karya patung yang menggunakan corak abstrak adalah : Patung "Torso" karya Edy Sunarso (1974). 

Title : "Torso"

Pematung : Edi Sunarso | Tahun : 1974 | Bahan : Kayu Sonokeling | Tinggi : 104 cm | Corak : Abstrak

Karya Edi Sunarso yang berjudul " Torso " ( 1974 ) bisa dikategorikan dalam gaya seni abstrak. Selain sebagai pematung monumen, seniman ini termasuk pendukung yang kuat dalam mengeksplorasi patung-patung yang berazas liris individual.  Edi Sunarso dalam proses yang panjang mengembangkan bentuk modern yang tetap berorientasi menggali sumber-sumber tradisi.  Puncaknya adalah ketika ia sampai pada bentuk-bentuk abstrak yang didalamnya tersimpan spirit dan idiom-idiom tradisi.

Dalam karya ini makna yang dibaca adalah bagaimana seniman mengunggkapkan empati terhadap nilai-nilai human lewat penggalian bentuk-bentuk tubuh wanita.  Eksplorasi nilai human itu sampai pada esensi bentuk, fungsi, dan nilai estetik bagian-bagian tubuh sehingga melahirkan bentuk yang tidak terduga.  Sampai penggalian yang purna, patung ini menampilkan bentuk lembut dan indah, yang merefleksikan nilai human sosok wanita.

Sumber Riset :

  • Sekretariat Negara (setneg.go.id)
  • Galeri Nasional Indonesia (galeri-nasional.or.id)
  • Gelora Bung Karno (gbk.id)
  • Buku Seni Budaya Kelas 9 (erlangga.co.id)

---

Gimana? Seru banget ya blog kali ini ヽ(◕ヮ◕ヽ). Kalau kamu punya pendapat atau pertanyaan soal topik ini, coba aja yuk share di kolom komentar! Aku pamit dulu yaa ~

NOTE : AldiGroup Blogs yang kamu akses saat ini masih dalam tahap pengembangan/ BETA yaa. Maka dari itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran dari kamu. Untuk menanggapi blog ini, kamu bisa menghubungi cs@aldiedu.my.id atau Contact Support. Terima Kasih ~

Regards, AldiEducation Indonesia

 

1 comment

AldiEducation

Mata Pelajaran : Seni Budaya (Kelas IX)
Proudly Created by AldiEducation for Students, ©2019-2020

Leave a comment